Risma Nora, Dwi Saputri Kasus Praktik : Analisis Penyebab Tension pada Proses Warping untuk Benang Rayon Ne 30 Terhadap End Break Sisa Benang Cikalan. Project Report. AK-Tekstil Solo.
Risma Cover.pdf
Download (407kB)
Risma Nora Dwi Saputri_Ringkasan.pdf
Download (141kB)
RismaNora Dwi Saputri_Bab 1-5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB) | Request a copy
Risma Nora Dwi Saputri_Daftar Pustaka.pdf
Download (412kB)
Abstract
Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di PT Delta Merlin Dunia Textile V
yang berlokasi di Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa
Tengah pada tanggal 20 Maret –4 Juli 2024. Proses pertenunan memiliki alur
proses dari raw material, warping, sizing, leasing, reaching,tying,loom,inspecting,
dan folding. Lokasi praktik kerja lapangan dilakukan di dapertemen weaving unit A
dan berfokus membahasa proses warping (Penghanian). Laporan ini akan
membahas tentang end break per 1 juta benang rayon Ne 31 kontruksi R845062
dan panjang sisa benang cikalan PT DMDT V memiliki dua tipe warping yaitu
direct warping dan indirect warping. Warping adalah proses pemindahan gulungan
dari gulungan conel cheese mending gulungan beam dengan panjang dan jumlah
helai tertentu. Dalam proses warping, tension, merupakan hal yang paling
menentukan keberhasilan proses selanjutnya dengan memberikan tension yang
sesuai kulitas gulungan akan meratakan kekerasan gulungan sehingga pada saat
kualitas gulungan akan meratakan kekerasan gulungan sehingga pada saat
proses selanjutnya dapat terlepas dari gulungan secara merata. Kulitas benang
dapat dikatagorikan berdasarkan data drop box dengan standar Uster Statistic
paramter (USP) benang. Setelah melakukan analisis pada proses warping,
ditentukan suatu masalah mengenai perhitungan tension yang digunakan untuk
benang rayon Ne 31 yaitu menggunakan middle tension yang menghasilkan
tension 9 gram untuk body dan 12 gram untuk pinggiran, walapun benang tersebut
dapat dikatagorikan kualitas gulungan beam yang baik, setelah proses di warping
selesai teryata data end break per 1 juta masih tergolong baik sehingga
memungkinkan untuk menaikan perhitungan tension ke middle tension dan 8,20
untuk middle tension, walapun ada kenaikan sebesar 0,48 namun masih dalam
batas yang diperbolehkan, serta adanya kenaikan panjang sisa benang cikala.
Membandingkan jumlah end break per juta tension lama (low tension) dengan
tension baru (middle tension). Membandingkan panjang cikalan tension lama (low
tension) dengan tension baru (middle tension).
| Item Type: | Monograph (Project Report) |
|---|---|
| Subjects: | T Technology > TS Manufactures |
| Depositing User: | Mr Rizky Aditya Husandani |
| Date Deposited: | 22 Jul 2026 04:00 |
| Last Modified: | 22 Jul 2026 04:00 |
| URI: | https://repository.ak-tekstilsolo.ac.id/id/eprint/809 |

