Kasus Kajian: Analisis Tingginya Putus Benang Proses Rayon 30 MVS di Mesin Sizing tipe Tsudakoma

ZAIDAN, AZMI LATIEF / 2102015 Kasus Kajian: Analisis Tingginya Putus Benang Proses Rayon 30 MVS di Mesin Sizing tipe Tsudakoma. Project Report. Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta.

[thumbnail of 2. Zaidan Azmi Latief_Abstrak.pdf] Text
2. Zaidan Azmi Latief_Abstrak.pdf

Download (339kB)
[thumbnail of 3. Zaidan Azmi Latief_BAB I-V.pdf] Text
3. Zaidan Azmi Latief_BAB I-V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[thumbnail of 4. Zaidan Azmi Latief_Lampiran.pdf] Text
4. Zaidan Azmi Latief_Lampiran.pdf

Download (1MB)

Abstract

Penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini merupakan syarat wajib yang harus disusun oleh mahasiswa Akademi Komunitas Industi Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta semester akhir. Laporan disusun setelah melakukan Praktik Kerja Lapangan di PT Tantra Textile Industry yang di Jalan raya Solo Sragen tepatnya di Waru, Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah. Praktik Kerja Lapangan dilakukan tanggal 8 Mei 2023 hingga 6 Juli 2023. Penulis mengangkat tema “Analisis Tingginya Putus Benang Proses Rayon 30 MVS di Mesin Sizing tipe Tsudakoma” dikarenakan tingginya data putus benang sebanyak 338 kali per bulan Januari – Mei 2023 dengan persentase terbesar 63,02% putus benang terletak pada bagian sisir sizing dari total jumlah putus benang rayon 30 MVS. Pengunaan metode FTA (Fault Tree Analysis) sebagai identifikasi berberapa faktor penyebab tingginya putus benang pada sisir sizing, diantaranya; benang lengket, benang getas, dan benang crossing/saling menyilang. Pada benang lengket terjadi karena tegangan benang yang rendah, persentase size pick up (SPU) yang melebihi standar, dan creep/stop mesin terlalu sering dan lama, lalu pada benang getas terjadi karena persentase SPU yang melebihi standar, pengeringan yang berlebihan, dan kejutan termal, kemudian
pada benang crossing/saling menyilang terjadi karena kerataan benang antar beam warping, dan benang putus pada beam warping. Dengan adanya berberapa faktor tersebut maka diberikan usulan perbaikannya disetiap faktor-faktor penyebab kegagalan tersebut yaitu pada benang lengket dapat dilakukan pemberian metode pemeriksaan kelurusan antar benang, mekanisme pelaksanaan knurling bubut pada bagian ash connecting, pergantian spare part, serta pemberian pelatihan ke sumber daya manusia mengenai penanganan dan
pengawasan masalah pada benang yang efektif, serta benang getas dapat dilakukan pemberian instruksi dan pengawasan terkait pelaksanaan proses sizing, serta memberikan memberikan usulan metode pengeringan dari yang sebelumnya
double step menjadi single step guna mengoptimalkan proses pengeringan sehingga dapat menghindari kenaikan suhu yang berlebihan yang berdampak pada rendahnya frekuensi putus benang proses rayon 30 MVS, mekanisme pemakaian metode ini yaitu mengurangi dua pre cylinder dryer sehingga akan
mengurangi temperatur sekitar 2100C dan selisih panjang cylinder dryer yang dilewati benang sekitar 2,21 meter, dari kedua faktor tersebut dapat mengoptimalkan proses pengeringan saat memproses benang rayon 30 MVS di mesin sizing tipe Tsudakoma dan dilakukan penyetelan temperatur cylinder dryer yang tepat, dan pada benang crossing/saling menyilang dapat dilakukan memberikan informasi feedback hasil kualitas ke proses sebelumnya.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: L Education > LB Theory and practice of education
L Education > LB Theory and practice of education > LB2300 Higher Education
Q Science > Q Science (General)
Depositing User: Mr Rizky Aditya Husandani
Date Deposited: 23 Jul 2026 07:50
Last Modified: 23 Jul 2026 07:50
URI: https://repository.ak-tekstilsolo.ac.id/id/eprint/851

Actions (login required)

View Item
View Item